BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Fantasi setiap anak telah muncul
sejak usia dini, dan akan berkembang dalam rentang usia tiga sampai enam tahun.
Anak mengembangkan kreativitasnya melalui kegiatan bermain yang menggunakan
imajinasi anak. Imajinasi anak akan berkurang sejalan dengan bertambahnya usia,
terutama ketika meraka mulai memasuki sekolah. Perlakuan, penghargaan dan pola
asuh orang dewasa di sekitar anak dapat menghambat daya kreativitas.
Kreativitas dan bakat pada diri anak
perlu dipupuk dan dikembangkan. Karena dengan kreativitas dan bakat yang
dimilikinya itu mereka dapat menjadi pribadi-pribadi yang kreatif. Sebagai
pribadi yang kreatif ,kelak mereka bukan saja dapat meningkatkan kualitas
pribadinya,tetapi juga dapat meningkatkan kualitas kehidupan bangsa dan negara.
Dengan potensi kreativitas alami
yang dimilikinya, anak akan senantiasa membutuhkan aktivitas yang syarat dengan
ide kreatif. Agar minat dan kreativitas
dapat berkembang secara optimal, perlu ada rangsangan-rangsangan dari lingkungannya.
Disinah perlunya pengembangan kreativitas anak usia dini, agar mereka memiliki
kebebasan untuk berimprovisasi dan berkreasi.
B.
Permasalahan
Permasalahan dalam makalah ini adalah bagaimana peranan
guru dalam mengembangkan kreativitas dan keberbakatan anak:
1. Apa
yang dimaksud dengan kreativitas dan keberbakatan?
2. Bagaimana
cara mengembangkan kreativitas pada anak?
3. Bagaimana
peranan mengembangkan kreativitas dan keberbakatan anak?
C.
Tujuan
Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini untuk memberikan
pemahaman tentang konsep kreativitas dan keberbakatan serta peranan guru dalam
pengembangan kreativitas dan keberbakatan anak.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat
Anak Usia Dini
Anak
adalah manusia kecil yang memiliki potensi yang masih harus dikembangkan. Anak
memiliki karakteristik tertentu yang khas dan tidak sama dengan orang dewasa,
mereka selalu aktif, dinamis, antusias dan ingin tahu terhadap apa yang
dilihat, didengar, dirasakan, mereka seolah-olah tak pernah berhenti
bereksploitasi dan belajar (Sujiono, 2011: 6).
Anak
usia dini (0-8 tahun) adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan
dan perkembangan yang sangat pesat. Oleh karena itu dikatakan sebagai masa golden age (Rahman, 2005: 33).
Priode emas adala masa dimana otak anak
mengalami perkembangan paling cepat sepanjang sejarah kehidupannya. Priode ini
hanya berlangsung pada saat anak dalam kandungan hingga usia dini, yaitu 0-6
tahun (Suyadi, 2010: 23).
B.
Konsep
Kreativitas
1. Kreativitas
Dan Aktualisasi Diri
Dalam
Munandar (2004 : 18) beberapa ahli mengemukakan pendapat tentang pengertian
kreativitas dan aktualisasi diri, diantaranya:
a. Menurut
psikolog humanistic seperti Abraham Maslow dan Carl Rogers berpendapat
“aktualisasi diri ialah apabila seseorang menggunakan semua bakat dan
talentanya untuk menjadi apa yang ia mampu menjadi-mengaktualisasikan atau
mewujudkan potensinya”.
b. Maslow
(1968) aktualisasi diri merupakan karakteristik yang fundamental, suatu
potesialitas yang ada pada semua manusia saat kelahiran, akan tetapi yang
sering hilang, terhambat atau terpendam
dalam pembudayaan.
c. Rogers
menekankan (1962) bahwa sumber dari kreativitas adalah kecenderungan untuk
mengaktualisasi dri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang menjadi
matang, kecenderungan untuk mengekspresikan dan mengaktifkan semua kemampuan
organisme.
d. Clark
Moustakis (1967) menyatakan bahwa kreativitas adalah pengalaman mengekspresikan
dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan
dengan diri sendiri, dengan alam, dan dengan orang lain.
2. Konsep
Kreativitas Dengan Pendekatan Empat P
Beberapa
definisi tentang kreativitas berdasarkan empat P dalam Munandar (2004,
20-22) menurut para pakar:
a. Definisi
pribadi
Definisi tentang
kreativitas dalam “three-facet model of
creativity” oleh Sternberg (1988) yaitu kreativitas merupakan titik
pertemuan yang khas antara tiga atribut psikologis: inteligensi, gaya kognitif,
dan kepribadian/motivasi. Bersama ketiga segi dari alam pikiran ini membantu
memahami apa yang melatar belakangi individu yang kreatif.
b. Definisi
proses
Definisi proses oleh
Torrance tentang kreativitas yang pada dasarnya menyerupai langkah-langkah
dalam metode ilmiah, meliputi seluruh proses kreatif dan ilmiah mulai dari
menemukan masalah sampai dengan menyampaikan hasil. Adapun langkah-langka
proses kreatif menurut Wallas (1926) meliputi persiapan, inkubasi, iluminasi
dan verivikasi.
c. Definisi
produk
Definisi dari Barron
(1969) yang menyatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk
menghasilkan/menciptakan sesuatu yang baru.
d. Definisi
press
Pendekatan terhadap
kreativitas menekankan factor press
atau dorongan, baik dorongan internal (dari diri sendiri berupa keinginan dan
hasrat untuk mencipta atau bersibuk diri secara kreatif) maupun dorongan
eksternal dari lingkungan social dan psikologis.
3. Dasar
Pertimbangan Untuk Pengembangan Kreativitas
a. Hakikat
pendidikan
Pendidikan mempunyai
peranan yang sangat menentukan bagi perkembangan dan perwujudan diri individu,
terutama bagi pembangunan bangsa dan Negara. Tujuan pendidikan pada umumnya
ialah menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak didik untuk mengembangkan
bakat dan kemampuannya secara optimal, seingga ia dapat mewujudkan dirinya dan
berfungsi sepenuhnya, sesuai dengan kebutuhan pribadi dan masyarakat (Munandar,
2004 : 6).
b. Kebutuhan
akan kreativitas
Seiring berkembangan
jaman, kemajuan teknologi semakin meningkat. Kemajuan tegnologi yang meningkat
di satu pihak dan ledakan penduduk disertai berkurangnya persediaan
sumber-sumber alami di lain pihak, lebih-lebih lagi menuntut adaptasi secar
kreatif dan kemampuan untuk mencari pemecahan yang imajinatif (Munandar,
2004:7).
c. Kendala
dalam mengembangkan kreativitas
Ada banyak tantangan yang dihadapi anak dalam proses
berpikir kreatif (oktarisa, KREATIFITAS%20DAN%20KEBERBAKATAN/welcome%20to%20my%20blog%20%20perkembangan%20kreativitas%20anak%20usia%20dini.html)
di antaranya adalah:
1. Pengertian kreativitas itu sendiri
dan tes-tes yang biasa digunakan.
2. Ragu-ragu dan tidak ada keberanian
dalam menyampaikan ide karena dihantui perasaan takut salah, hawatir idenya
akan dilecehkan orang lain, dan takut dikucilkan dari lingkungan
3. Sangat terikat pada mekanisme
berpikir yang sudah terpola secara baku, sehingga memandang tidak perlu
direpotkan dengan mencari-cari sesuatu yang baru dan belum tentu akan menjadi
lebih baik
4. Kondisi lingkungan yang
bersifat status quo
sehingga cenderung akan menolak perubahan
5. Proses berpikir yang lamban sehingga
idenya keburu ditangkap pihak lain.
d. Hubungan
kreativitas-inteligensi
Guilford dengan
pidatonya yang terkenal pada tahun 1950 memberi perhatian terhadap masalah
kreativitas dalam pendidikan, menyatakan bahwa pengembangan kreativitas
ditelantarkan dalam pendidikan formal, padahal amat bermakna bagi pengembangan
potensi anak secara utuh dan bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan seni budaya.
Kemudian dengan diajukan model struktur
intelektual, tampak perhatian terhadap kreativitas, termasuk hubungan
antara kreativitas dan inteligensi sangatlah meningkat, khususnya sejauh mana inteligensi
berpengatuh terhadap kreativitas seseorang. Model struktur intelek membedakan
antara berpikir konvergen (mendasari tes inteligensi tradisional) dan kemampuan
berpikir divergen (indicator dari kreativitas) (Munandar, 2004: 8-9).
e. Peran
inteligensi dan kreativitas terhadap prestasi sekolah
Torrance (1959),
Getzels dan Jackson (1962), dan Yamamoto (1964) berdasarkan studinya
masing-masing sampai pada kesimpulan yang sama, yaitu bahwa sekelompok siswa
yang kreativitasnya tinggi tidak berbeda dengan prestasi sekolah dari kelompok
siswa yang inteligensinya relative lebih tinggi. Torrance mengajukan hipotesis
bahwa daya imajinasi, rasa ingin tahu, dan orisinalitas sari subjek yang
kreativitasnya tinggi dapat mengimbangi kekurangan dalam daya ingatan dan factor-faktor
lain diukur oleh tes inteligensi tradisional (Munandar, 2004:9)
f. Sikap
kreatif sebagai Non-aptitude trait dari kreativitas
Dalam studi-studi
factor analisis seputar ciri-ciri utama kreativitas, Guilford (1959) membedakan
antara aptitude dan non-uptitude traits yang menghubungkan
dengan kreativitas. Ciri-ciri uptitude
dari kreativitas meliputi kelancaran, kelenturan, dan orisinalitas dalam
berpikir, dan ciri-ciri ini dioperasionalisasikan dalam tes berpikir konvergen
(Munandar, 2004:10).
Penelitian berdasarkan
analisis factor menunjukkan kolerasi yang statistis bermakna (signifikan)
walaupun rendah, antara cirri-ciri non-aptitude
seperti kepercayaan diri, keuletan, apresiasi estetik, kemandirian (Munandar,
2004: 11).
g. Sikap
guru dan orang tua mengenal kreativitas
Guru dan orang tua
merupakan lingkungan pendidik yang berfungsi sebagai pendorong dalam
pengembangan kreativitas anak, pendidik adalah mengembangkan sikap dan
kemampuan anak didiknya yang dapat membantu untuk menghadapi persoalan-persoalan
di masa mendatang secara kreatif dan inventif (Munandar, 2004:11).
4. Kebijakan
Tentang Pengembangan Kreativitas
Dalam
Garis-garis Besar Haluan Negara 1993 (kaidah penutupan) temaktub bahwa
“pembangunan ekonomi harus selalu mengarah kepada mantapnya system ekonomi
nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 yang disusun untuk
mewujudkan Demokrasi Ekonomi yang harus dijadikan dasar pelaksanaan pembangunan
yang memiliki ciri, antara lain potensi, inisiatif, dan daya kreasi setiap
warga Negara diperkembangkan sepenuhnya dalam batas-batas yang ridak merugikan
kepentingan umum (Munandar, 2004:16-17).
C.
Konsep
Keberbakatan
1. Definisi
USEO Tentang Keberbakatan
Dalam
seminar nasional mengenai alternative program pendidikan bagi anak berbakat yang
diselenggarakan oleh badan penelitian dan oengembangan pendidikan dan
kebudayaan, pusat pengembangan kurikulum dan sarana pemdidikan bekerja sama
dengan yayasan pengembangan kreativitas pada tanggal 12-14 November 1981
dijakarta (Utami Munandar, 1982) disepakati bahwa:
Anak berbakat adalah
mereka yang ole orang-orang professional diidentifikasi sebagai anak yang mempu
mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul.
Anak-anak tersebut memerlukan program pendidikan yang berdiferensiasi dan/atau
pelayanan di luar jangkauan program sekolah biasa agar dapat merealisasikan
sumbangan mereka terhadap masyarakat maupun untuk pengembangan diri sendiri.
Kemampuan-kemampuan
tersebut, baik secara potensial maupun yang telah nyata meliput:
-
Kemampuan
intelektual umum
-
Kemampuan
akademik khusus
-
Kemampuan
berpikir kreatif-produkrif
-
Kemampuan
memimpin
-
Kemampuan
dalam salah satu bidang seni
-
Kemampuan
psikomotor (seperti dalam olah raga)
Definisi
ini merupakan adopsi dari definisi U.S Office Of Education (Mayland, 1972) dan
keputusan biasanya disebut sebagi definisi ESOU (Munandar, 2004: 23).
2. Konsepsi
Renzulli Tentang Keberbakatan
Tiga
criteria keberbakatan menurut Renzulli, dkk (Munandar, 2004: 24) yaitu:
a. Kemampuan
umum diatas rata-rata
b. Kreativitas
diatas rata-rata
c. Peningkatan
diri terhadap tugas
3. Dasar
Pertimbangan Untuk Pendidikan Anak Berbakat
Beberapa
alasan perlunya pelayanan pendidikan kusus bagi yang berbakat (Munandar, 2004:
13-15), yaitu:
-
Keberbakatan tumbuh
dari proses interaktif antara lingkungan dan bawaan
-
Pendidikan hendaknya
hendaknya dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan potensi
sepenuhnya
-
Anak berbakat harus
mengembangkan keberbakatannya
-
Pelayanan pendidikan
anak berbakat dapat mengembangkan social dan sikap yang lebih baik
-
Menghargai minat dan
gagasan anak
-
Mereka memerlukan
pengetahuan yang luas untuk memecakan masalah
-
Masyarakat perlu
orang-orang yang berkemampuan luar biasa untuk menghadapi tuntutan masa depan
secara inovatif
-
Anak berbakat akan
tumbuh dengan pelayanan yang khusus
4. Kebijakan
Pelayanan Anak Berbakat
Kebijakan
tentang pelayanan anak berbakat terdapat pada ayat-ayat dalam UU RI Nomor 2
Tahun 1989 tantang system pendidikan nasional amat mendukung penyelenggaraan
program pendidikan khusus bagi anak berbakat.
D.
Pengembangan
Kreativitas Anak Usia Dini
1. Menumbukan
Jiwa Kreatif Anak Usia Dini
Dalam
menumbuhkan jiwa kreatif anak usia dini diperlukan pendidikan dan lingkungan
yang dapat memperatikan sifat alami anak dan menunjang tumbuhnya kreativitas.
Sikap alami menurut Rachmawati dan Kurniati dalam Mulyasa (2012: 94-96)
tersebut antara lain:
a. Pesona
dan rasa takjub
Anak dapat mengamati
alam yang dapat membuat anak kagum dan takjub sehingga menghasilkan karya-karya
kreatif.
b. Imajinasi
Melalui imajinasi, anak
sering berpikir untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapinya.
c. Rasa
ingin tahu
Pada mumnya anak usia
dini memiliki antusias yang tinggi terhadap benda-benda di dekitarnya atau
makhluk baru yang pertama kali dilihatnya.
d. Banyak
bertanya
Bertanya merupakan
kunci pembuka cakrawala ilmu pengetahuan bagi anak.
2. Mengembangkan
Kreativitas Dalam Pembelajaran
Pengembangan
kreativitas anak usia dini dalam pembelajaran harus di laksanakan secara
efektif, efisien, produktif dan akuntabel. Beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam pengembangan kreativitas anak usia dini dalam pembelajarannya, antara
lain:
a. Pembelajaran
yang menyenangkan
Dalam standar proses
dikemukakan antara lain bahwaproses pembelajaran harus menyenangkan agar anak
mudah mencapai tujuan dan membentuk standar kompetensi dan kompetensi dasar
(SKKD). Untuk kepentingan tersebut diperlukan adanya keterlibatan emosi anak
dalam proses pembelajaran, karena factor emosi merupakan factor penting dan
menentukan efektivitas proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang
menyenangkan akan sangat berarti bagi anak dan bermanfaat hingga dewasa.
b. Belajar
sambil bermain
Melalui bermain anak
dapat mempelajari banyak hal, tanpa disadari dan tanpa merasa terbebani.
Melalui bermain anak dapat mengenal aturan, bersosialisasi, menempatkan diri,
menata emosi, toleransi, kerjasama, mengalah, sportif, dan sikap positif
lainnya.
c. Interaktif
Dalam proses
pengembangan kreativitas anak usia dini, perlu dipikirkan pendekatan
pembelajaran yang paling tepat bagu mereka. Dalam hal ini perlu perubaan pola
piker, baik pola piker guru maupun peserta didik sehingga tercipta pembelajaran
yang interaktif, yang dapat melibatkan anak seoptimal mungkin dalam
pembelajaran. Yang dulu dikenal cara belajar siswa aktif, yang lebih
menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran.
d. Memadukan
pembelajaran dengan perkembangan
Berbicara kreativitas
sebenarnya bukan hanya satu sisi saja yang menjadi focus dalam pembelajaran
anak usia dini sebab mereka memiliki berbagai aspek perkembangan seperti fisik,
kognitif, bahasa, emosi, kepribadian, spiritual, dan social. Aspek-aspek
perkembangan tersebut merupakan suatu kesatuan, yakni dalam memadukan semua
komponen pembelajaran dan pekembangan anak. Memadukan pembelajaran dengan perkembangan
anak usia dini akan memberikan kemudahan pendidik untuk memberikan layanan yang
tepat sehingga mereka bias menyajikan pendidikan yang efektif, efisien,
produktif, dan akuntabel.
e. Belajar
dengan konteks nyata
Pembelajaran pada anak
usia dini dapat dilakukan dengan pengamatan dan berinteraksi secara langsung
dengan objek pembelajaran, dapat menambah wawasan dan pengetahuannya jauh lebih
bermakna. Disamping itu apa yang mereka pelajari dalam konteks yang nyata akan
tersimpan lama di dalam ingatan, dan akan memudahkan mereka dalam pembelajaran
selanjutnya.
3. Strategi
Pengembangan Kreativitas Anak Usia Dini
Dari
berbagai sumber, diperoleh informasi tentang berbagai strategi yang dapat
digunakan dalam membantu mengembangkan kreativitas anak usia dini, antara lain:
a. Karya
nyata
Strategi pengembangan
kreativitas melalui karya nyata ini memberikan kesempatan pada setiap anak
untuk menciptakan benda buatan sendiri yang belum pernah ditemuinya. Mereka
juga bisa memodifikasi sesuatu dari benda yang telah ada sebelumnya. Hal yang
perlu ditekankan adalah bahwa setiap aktivitas anak akan membantu mereka
menjadi lebih kreatif dan semangat menemukan sesuatu yang baru.
b. Imajinasi
Imajinasi merupakan
kemampuan berpikir divergen yang dimiliki setiap anak usia dini, yang dilakukan
tanpa batas, san multiperspektif dalam merespons suatu rangsangan. Melalui
imajinasi anak dapat mengembangkan kemampuan daya pikir dan daya ciptanya tanpa
dibatasi kenyataan dan realitas sehari-hari, anak bebas berpikir sesuai
pengalaman dan khayalannya.
c. Eksplorasi
Eksplorasi merupakan
suatu kegiatan permainan yang dilakukan dengan cara menjelajahi atau
mengunjungi suatu tempat atau lingkungan untuk mempelajari sesuatu. Kegiatan
eksplorasi bagi anak usia dini merupakan suatu upaya belajar mengelaborasi dan
menggunakan kemampuan analisis sederhana dalam mengenal suatu objek. Anak
dilatih untuk mengamati benda dengan seksama, memperhatikan setiap bagian dari
objek tertentu serta mengenal cara hidup dan cara kerja objek tersebut.
d. Eksperimen
Eksperimen dalam
pembelajaran anak usia dini merupakan cara untuk mengetahui cara atau proses
terjadinya sesuatu, dan mengapa sesuatu dapat terjadi serta bagaimana mereka
dapat menemukan solusi terhadap permasalahan yang ada dan pada akhirnya mereka
dapat membuat sesuatu yang bermanfaat dari kegiatan tersebut.
e. Proyek
Keguatan proyek
merupakan salah satu pemberian pengalaman belajar dengan menghadapkan anak pada
persoalan sehari-hari yang harus dikerjakan secara berkelompok. Dalam kelompok,
setiap anak belajar mengatur diri sendiri agar dapat membina persahabatan,
berperan serta dalam kegiatan, memecahkan permasalahan yang dihadapi kelompok
dan bekerja sama.
Melalui kegiatan
proyek, anak mendapat kesempatan untuk mengekspresikan pola pikir,
keteranpilan, dan kemampuannya untuk memaksimalkan sejumlah permasalahan yang
dihadapi mereka sehingga anak memiliki peluang untuk berkreasi dan
mengembangkan diri.
f. Bahasa
Bahasa adalah kemampuan
untuk mengekspresikan apa yang dialami dan dipikirkan oleh anak dan kemampuan
untuk menangkap pesan dari lawan bicara. Dengan berbahasa anak dapat
berkomunikasi dan bersosialisasi dengan anak lainnya. Dengan bahasa juga dapat
mengembangkan kreativitas melalui kegiatan mendongeng, menceritakan kembali
kisah yang tela diperdengarkan, berbagi pengelaman, sosiodrama, atau mengarang
cerita dan puisi.
g. Music
Music merupakan
aktivitas kreatif, seorang anak yang kreatif tampat dari rasa ingin tahu, sikap
ingin mencoba dan daya imajinasinya. Bermain music dapat melatih kepekaan rasa
dan emosi anak, melatih mental untuk mencintai keselarasan, keharmonisan,
keindahan dan kebaikan, serta kecintaan terhadap music.
E.
Peranan
Guru Dalam Pengembangan Kreativitas dan keberbakatan Anak
1. Peran
Guru Dalam Pengembangan Kreativitas
a. Kreatif
dan menyukai tantangan
guru harus bersifat
kreatif, senang akan tantangan dan hal baru. Sehingga ia akan senantiasa
mengembangkan, memperbaharui, dan memperkaya aktivitas belajarnya dari waktu ke
waktu.
b. Menghargai
karya anak
Menghargai anak
sangatla prinsipel sifatnya. Tanpa sikap ini mustahil anak akan bersedia
mengekspresikan dirinya secara bebas dan mandiri dalam menyelesaikan tugasnya.
c. Menerima
anak apa adanya
Setiap anak unik dan
khas, sebagai seorang guru dituntuk untuk memahami keunikan peserta didiknya.
Penerimaan anak berkaitan dengan rasa aman pada anak.
d. Motivator
Seorang guru sebagai
pendorong bagi peserta didik dan seluruh komponen akademika untuk terus
mengembangkan diri dan memaksimalkan potensi kreatif yang mereka miliki
e. Ekspresif,
penuh penghayatan, dan peka pada perasaan
Kematangan emosional
para pengembang kreativitas adala hal penting untuk dapat mengalami asil
kreativitas anak.
f. Mencintai
seni dan keindahan
Banyak hasil karya
kreativitas berbentuk karya seni, oleh sebab itu gruru memiliki konsep-konsep
dasar tentang estetika
g. Memiliki
rasa cinta yang tulus terhadap anak
Kecintaan yang tulus
terhadap anak akan memberikan kenyamanan secara psikologis bagi anak untuk
dapat dengan tenang dan senang melakukan eksplorasi terhadap potensi dirinya.
h. Tertarik
pada perkembangan anak
Guru hendaknya memahami
akan aspek perkembangan anak, sehingga guru dapat mengembangkan kreativitas
anak sesuai dengan perkembangan dan dapat menangani permasalahan yang muncul
dalam pembelajaran.
i.
Mau dan mampu
mengembangkan porensi anak
Setelah guru mengetahui
potensi anak, guru harus tahu akan tindakan selanjutnya untuk pengembangan
potensi anak sehingga anak dapat berkembang dengan optimal.
j.
Hangat dan semangat
Kasih saying, sentuhan
dan kehangatan dalam bersikap akan dapat menunjang terciptanya suatu psychological athmosphere yang baik bagi
anak. Anak akan merasa senang dan nyaman, tanpa harus merasa takut dan tegang
untuk dapat mengekspresikan dan mengaktualisasikan dirinya dengan potensial
yang mereka miliki.
k. Dinamis
dan konsisten
Sesuatu hal yang merupakan
cirri dari kreativitas adalah menyukai perubahan dapat dilihat dari proses,
person dan produknya. Sifat dinamis yang ditandai dengan adanya perubahan
tersebut, tentu saja tanpa menghilangkan sikap konsisten yang harus dipegang
ole individu agar dapat memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Konsisten
mengandung arti bahwa anak diarahkan untuk memiliki ketepatan dalam memutuskan
mana potensi yang mereka miliki dan akan mereka kembangkan. Artinya, guru tidak
memaksakan kemampuan anak untuk mengembangkan potensi yang mungkin sebenarnya
tidak terlalumenonjol dalam diri anak.
l.
Mau bermain dan berbagi
Pada hakikatnya bermain
bagi anak adalah belajar dan bekerja, dan kreativitas lebih banyak berkaitan
dengan bermain daripada bekerja. Dalam hal ini guru hendaknya terlibat aktif
dalam bentuk permainan yang dirancang untuk mengembangkan kreativitas anak
m. Luwes,
tanggap dan peduli
Sikap dan kepribadian
yang menarik dari guru pengembangan kreativitas adalah luwes dan lincah dalam
menghadapi segala macam kebutuhan, minat dan kemampuan anak. Guru hendaknya mengupayakan
agar anak senang dalam melakukan kegiatan, merasa diterima, dipahami, dan
diperlakukan dengan penuh perhatian sehingga anak merasa aman dan nyaman untuk
mengembangkan kreativitasnya dengan optimal.
n. Memberi
kebebasan untuk belajar dari lingkungan
Lingkungan yang
seharusnya diciptakan disekitar anak adalah lingkungan yang dapat merangsang
anak untuk mengeksplorasikan segala sesuatu
yang ada disekitar mereka. Lingkungan dapat memberikan rangsangan yang
baik bagi berkembangnya kreativitas anak. Kesempatan yang diberikan kepada
setiap anak untuk menjelajahi lingkungan sekitar mereka dapat diberikan gagasan
baru bagi mereka untuk mengembangkan potensi kreatif yang dimiliki.
2. Peran
Guru Dalam Pengembangan Bakat Anak
a. Karakteristik
guru anak berbakat
Guru menentukan tujuan
dan sasaran belajar, membantu dalam pembentukan nilai pada anak (nilai hidup,
nilai moral dan nilai social), memilih pengalaman belajar, menentukan metode
atau strategi mengajar, dan yang paling penting, menjadi model prilaku bagi
siswa. Davis (dikutip Sisk, 1987) menyebutkan ciri-ciri sebagai berikut: sikap
demokratis, ranah dan memberi perhatian per orangan, sabar, minat luas,
penampilan yang menyenangkan, adil, tidak memihak, rasa umor, perilaku
konsisten, memberi perhatian terhadap masakah anak, kelenturan, menggunakan
penghargaan dan pujian, dan kemahiran yang luar biasa dalam mengajar subjek
tertentu.
Maker (1982) membagi
karakteristikguru anak berbakat menjadi tiga kelompok, yaiti: karakteristik
filosofis, karakteristik professional, karakteristik pribadi guru.
b. Persiapan
guru anak berbakat
Kita dapat membedakan
program bergelar untuk persiapan guru anak merbakat melalui:
1) Program
bergelar
Kebanyakan program guru
anak berbakat mempersyaratkan kompetensi sebagai berikut
a) Mengetaui
sifat dan kebutuhan anak
b) Mempunyai
keterampilan dalam mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi
c) Mengetahui
tentang kebutuhan efektif dan kognitif dari anak berbakat
d) Mempunyai
kemampuan untuk mengembangkan pemecahan masalah secara kreatif
e) Mempunyai
kemampuan untuk mengembangkan bahan untuk anak berbakat
f) Mempunyai
kemampuan untuk menggunakan strategi mengajar per orangan
g) Mempunyai
kemampuan untuk mempertunjukkan teknik mengajar yang sesuai
h) Mempunyai
kemampuan untuk membimbing dan memberi konseling kepada anak berbakat dan orang
tua mereka
i)
Mempunyai kemampuan
utuk melakukan penelitian
2) Pelatihan
dalam jabatanj
Program pelatihan guru
anak berbakat yang biasanya diberikan, termasuk di Indonesia, secara garis
besar meliputi:
a) Karakteristik
dan identifikasi anak berbakat
b) Memahami
proses kognitiff, afektif, psikomotor, dan proses pemikiran tingkat tinggi
c) Strategi
mengajar dan lingkungan belajar yang sesuai dengan gaya dan minat bakat anak
d) Organisasi
penyelenggaraan program
e) Evaluasi
program
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
kreativitas
adalah kecenderungan untuk mengaktualisasi dri, mewujudkan potensi, dorongan
untuk berkembang menjadi matang, kecenderungan untuk mengekspresikan dan
mengaktifkan semua kemampuan organisme. Pada diri anak telah memiliki
kreativitas yang dapat dimunculkan dengan sikap-sikap seperti selalu ingin
tahu, memiliki minat yang luas, dan menyukai kegemaran dan
aktivitas yang kreatif. Siswa
berbakat kreatif biasanya mempunyai rasa humor yang tinggi, dapat melihat
masalah dari berbagai sudut tinjau, dan memiliki kemampuan untuk bermain dengan
ide, konsep, atau kemungkinan-kemungkinan yang dikhayalkan.
Oleh sebab itu perlu dilakukan pengembangan kreativitas anak sejak usia dini. Makna dari
pengembangan kreativitas berkaitan dengan kualitas perwujudan diri, peningkatan
kemampuan berfikir kreatif.
Untuk mengembangkan kreativitas anak
dibutuhkan keharmonisan antara guru dan anak dalam prose belajar mengajar
dan tidak kalah pentingnya peran orang tua anak tersebut. Kreativitas
anak juga akan berkembang dengan hadirnya guru professional yang kreatif
sebagai pemicu lahirnya inovasi proses dan hasil pembelajaran yang bermutu
tinggi, karena guru sangat berperan penting dalam peningkatan kreativitas anak.
Guru dapat menjadi pihak yang membentuk anak sesuai dengan kemampuan dan
potensinya.
DAFTAR
PUSTAKA
Mulyasa;
2012; Manajemen PAUD; Bandung; PT
Remaja Rosdakarya.
Munandar, Utami; 2004; Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat;
Jakarta; PT. Asdi Mahasatya.
Oktarisa, Dana; 2013;KREATIFITAS%20DAN%20KEBERBAKATAN/welcome%20to
%20my%20blog%20%20perkembangan%20kreativitas%20anak%20usia%20dini.html; diakses
tanggal 5 November 2013.
Raman,
Hibana S; 2005; Konsep Dasar Pendidikan
Anak Usia Dini; Yogyakarta; Grafindo Litera Media
Sujiono,
Yuliani; 2011; Konsep Dasar Pendidikan
Anak Usia Dini; Jakarta; PT. Indeks.
Suyadi;
2010; Psikologi Belajar Pendidikan Anak
Usia Dini; Yogyakarta; Pedagogia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar