Jumat, 15 Januari 2016

PERAN DAN TUGAS GURU DALAM MENGEMBANGKAN KREATIRVITAS DAN KEBERBAKATAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Fantasi setiap anak telah muncul sejak usia dini, dan akan berkembang dalam rentang usia tiga sampai enam tahun. Anak mengembangkan kreativitasnya melalui kegiatan bermain yang menggunakan imajinasi anak. Imajinasi anak akan berkurang sejalan dengan bertambahnya usia, terutama ketika meraka mulai memasuki sekolah. Perlakuan, penghargaan dan pola asuh orang dewasa di sekitar anak dapat menghambat daya kreativitas.
            Kreativitas dan bakat pada diri anak perlu dipupuk dan dikembangkan. Karena dengan kreativitas dan bakat yang dimilikinya itu mereka dapat menjadi pribadi-pribadi yang kreatif. Sebagai pribadi yang kreatif ,kelak mereka bukan saja dapat meningkatkan kualitas pribadinya,tetapi juga dapat meningkatkan kualitas kehidupan bangsa dan negara.
            Dengan potensi kreativitas alami yang dimilikinya, anak akan senantiasa membutuhkan aktivitas yang syarat dengan ide kreatif. Agar minat  dan kreativitas dapat berkembang secara optimal, perlu ada rangsangan-rangsangan dari lingkungannya. Disinah perlunya pengembangan kreativitas anak usia dini, agar mereka memiliki kebebasan untuk berimprovisasi dan berkreasi.

B.     Permasalahan
            Permasalahan dalam makalah ini adalah bagaimana peranan guru dalam mengembangkan kreativitas dan keberbakatan anak:
1.      Apa yang dimaksud dengan kreativitas dan keberbakatan?
2.      Bagaimana cara mengembangkan kreativitas pada anak?
3.      Bagaimana peranan mengembangkan kreativitas dan keberbakatan anak?

C.    Tujuan Penulisan
            Adapun tujuan penulisan makalah ini untuk memberikan pemahaman tentang konsep kreativitas dan keberbakatan serta peranan guru dalam pengembangan kreativitas dan keberbakatan anak.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hakikat Anak Usia Dini
            Anak adalah manusia kecil yang memiliki potensi yang masih harus dikembangkan. Anak memiliki karakteristik tertentu yang khas dan tidak sama dengan orang dewasa, mereka selalu aktif, dinamis, antusias dan ingin tahu terhadap apa yang dilihat, didengar, dirasakan, mereka seolah-olah tak pernah berhenti bereksploitasi dan belajar (Sujiono, 2011: 6).
            Anak usia dini (0-8 tahun) adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Oleh karena itu dikatakan sebagai masa golden age (Rahman, 2005: 33).
            Priode emas adala masa dimana otak anak mengalami perkembangan paling cepat sepanjang sejarah kehidupannya. Priode ini hanya berlangsung pada saat anak dalam kandungan hingga usia dini, yaitu 0-6 tahun (Suyadi, 2010: 23).

B.     Konsep Kreativitas
1.      Kreativitas Dan Aktualisasi Diri
Dalam Munandar (2004 : 18) beberapa ahli mengemukakan pendapat tentang pengertian kreativitas dan aktualisasi diri, diantaranya:
a.       Menurut psikolog humanistic seperti Abraham Maslow dan Carl Rogers berpendapat “aktualisasi diri ialah apabila seseorang menggunakan semua bakat dan talentanya untuk menjadi apa yang ia mampu menjadi-mengaktualisasikan atau mewujudkan potensinya”.
b.      Maslow (1968) aktualisasi diri merupakan karakteristik yang fundamental, suatu potesialitas yang ada pada semua manusia saat kelahiran, akan tetapi yang sering hilang, terhambat atau terpendam  dalam pembudayaan.
c.       Rogers menekankan (1962) bahwa sumber dari kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasi dri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang menjadi matang, kecenderungan untuk mengekspresikan dan mengaktifkan semua kemampuan organisme.
d.      Clark Moustakis (1967) menyatakan bahwa kreativitas adalah pengalaman mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam, dan dengan orang lain.

2.      Konsep Kreativitas Dengan Pendekatan Empat P
Beberapa definisi tentang kreativitas berdasarkan empat P dalam Munandar (2004, 20-22)  menurut para pakar:
a.       Definisi pribadi
Definisi tentang kreativitas dalam “three-facet model of creativity” oleh Sternberg (1988) yaitu kreativitas merupakan titik pertemuan yang khas antara tiga atribut psikologis: inteligensi, gaya kognitif, dan kepribadian/motivasi. Bersama ketiga segi dari alam pikiran ini membantu memahami apa yang melatar belakangi individu yang kreatif.
b.      Definisi proses
Definisi proses oleh Torrance tentang kreativitas yang pada dasarnya menyerupai langkah-langkah dalam metode ilmiah, meliputi seluruh proses kreatif dan ilmiah mulai dari menemukan masalah sampai dengan menyampaikan hasil. Adapun langkah-langka proses kreatif menurut Wallas (1926) meliputi persiapan, inkubasi, iluminasi dan verivikasi.
c.       Definisi produk
Definisi dari Barron (1969) yang menyatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan/menciptakan sesuatu yang baru.
d.      Definisi press
Pendekatan terhadap kreativitas menekankan factor press atau dorongan, baik dorongan internal (dari diri sendiri berupa keinginan dan hasrat untuk mencipta atau bersibuk diri secara kreatif) maupun dorongan eksternal dari lingkungan social dan psikologis.

3.      Dasar Pertimbangan Untuk Pengembangan Kreativitas
a.       Hakikat pendidikan
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat menentukan bagi perkembangan dan perwujudan diri individu, terutama bagi pembangunan bangsa dan Negara. Tujuan pendidikan pada umumnya ialah menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya secara optimal, seingga ia dapat mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya, sesuai dengan kebutuhan pribadi dan masyarakat (Munandar, 2004 : 6).


b.      Kebutuhan akan kreativitas
Seiring berkembangan jaman, kemajuan teknologi semakin meningkat. Kemajuan tegnologi yang meningkat di satu pihak dan ledakan penduduk disertai berkurangnya persediaan sumber-sumber alami di lain pihak, lebih-lebih lagi menuntut adaptasi secar kreatif dan kemampuan untuk mencari pemecahan yang imajinatif (Munandar, 2004:7).
c.       Kendala dalam mengembangkan kreativitas
Ada banyak tantangan yang dihadapi anak dalam proses berpikir kreatif (oktarisa, KREATIFITAS%20DAN%20KEBERBAKATAN/welcome%20to%20my%20blog%20%20perkembangan%20kreativitas%20anak%20usia%20dini.html) di antaranya adalah:
1.      Pengertian kreativitas itu sendiri dan tes-tes yang biasa digunakan.
2.      Ragu-ragu dan tidak ada keberanian dalam menyampaikan ide karena dihantui perasaan takut salah, hawatir idenya akan dilecehkan orang lain, dan takut dikucilkan dari lingkungan
3.      Sangat terikat pada mekanisme berpikir yang sudah terpola secara baku, sehingga memandang tidak perlu direpotkan dengan mencari-cari sesuatu yang baru dan belum tentu akan menjadi lebih baik
4.      Kondisi lingkungan yang bersifat status quo sehingga cenderung akan menolak perubahan
5.      Proses berpikir yang lamban sehingga idenya keburu ditangkap pihak lain.
d.      Hubungan kreativitas-inteligensi
Guilford dengan pidatonya yang terkenal pada tahun 1950 memberi perhatian terhadap masalah kreativitas dalam pendidikan, menyatakan bahwa pengembangan kreativitas ditelantarkan dalam pendidikan formal, padahal amat bermakna bagi pengembangan potensi anak secara utuh dan bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan seni budaya. Kemudian dengan diajukan model struktur intelektual, tampak perhatian terhadap kreativitas, termasuk hubungan antara kreativitas dan inteligensi sangatlah meningkat, khususnya sejauh mana inteligensi berpengatuh terhadap kreativitas seseorang. Model struktur intelek membedakan antara berpikir konvergen (mendasari tes inteligensi tradisional) dan kemampuan berpikir divergen (indicator dari kreativitas) (Munandar, 2004: 8-9).


e.       Peran inteligensi dan kreativitas terhadap prestasi sekolah
Torrance (1959), Getzels dan Jackson (1962), dan Yamamoto (1964) berdasarkan studinya masing-masing sampai pada kesimpulan yang sama, yaitu bahwa sekelompok siswa yang kreativitasnya tinggi tidak berbeda dengan prestasi sekolah dari kelompok siswa yang inteligensinya relative lebih tinggi. Torrance mengajukan hipotesis bahwa daya imajinasi, rasa ingin tahu, dan orisinalitas sari subjek yang kreativitasnya tinggi dapat mengimbangi kekurangan dalam daya ingatan dan factor-faktor lain diukur oleh tes inteligensi tradisional (Munandar, 2004:9)
f.       Sikap kreatif sebagai Non-aptitude trait dari kreativitas
Dalam studi-studi factor analisis seputar ciri-ciri utama kreativitas, Guilford (1959) membedakan antara aptitude dan non-uptitude traits yang menghubungkan dengan kreativitas. Ciri-ciri uptitude dari kreativitas meliputi kelancaran, kelenturan, dan orisinalitas dalam berpikir, dan ciri-ciri ini dioperasionalisasikan dalam tes berpikir konvergen (Munandar, 2004:10).
Penelitian berdasarkan analisis factor menunjukkan kolerasi yang statistis bermakna (signifikan) walaupun rendah, antara cirri-ciri non-aptitude seperti kepercayaan diri, keuletan, apresiasi estetik, kemandirian (Munandar, 2004: 11).
g.      Sikap guru dan orang tua mengenal kreativitas
Guru dan orang tua merupakan lingkungan pendidik yang berfungsi sebagai pendorong dalam pengembangan kreativitas anak, pendidik adalah mengembangkan sikap dan kemampuan anak didiknya yang dapat membantu untuk menghadapi persoalan-persoalan di masa mendatang secara kreatif dan inventif (Munandar, 2004:11).
4.      Kebijakan Tentang Pengembangan Kreativitas
Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara 1993 (kaidah penutupan) temaktub bahwa “pembangunan ekonomi harus selalu mengarah kepada mantapnya system ekonomi nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 yang disusun untuk mewujudkan Demokrasi Ekonomi yang harus dijadikan dasar pelaksanaan pembangunan yang memiliki ciri, antara lain potensi, inisiatif, dan daya kreasi setiap warga Negara diperkembangkan sepenuhnya dalam batas-batas yang ridak merugikan kepentingan umum (Munandar, 2004:16-17).


C.    Konsep Keberbakatan
1.      Definisi USEO Tentang Keberbakatan         
Dalam seminar nasional mengenai alternative program pendidikan bagi anak berbakat yang diselenggarakan oleh badan penelitian dan oengembangan pendidikan dan kebudayaan, pusat pengembangan kurikulum dan sarana pemdidikan bekerja sama dengan yayasan pengembangan kreativitas pada tanggal 12-14 November 1981 dijakarta (Utami Munandar, 1982) disepakati bahwa:
Anak berbakat adalah mereka yang ole orang-orang professional diidentifikasi sebagai anak yang mempu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul. Anak-anak tersebut memerlukan program pendidikan yang berdiferensiasi dan/atau pelayanan di luar jangkauan program sekolah biasa agar dapat merealisasikan sumbangan mereka terhadap masyarakat maupun untuk pengembangan diri sendiri.
Kemampuan-kemampuan tersebut, baik secara potensial maupun yang telah nyata meliput:
-          Kemampuan intelektual umum
-          Kemampuan akademik khusus
-          Kemampuan berpikir kreatif-produkrif
-          Kemampuan memimpin
-          Kemampuan dalam salah satu bidang seni
-          Kemampuan psikomotor (seperti dalam olah raga)
Definisi ini merupakan adopsi dari definisi U.S Office Of Education (Mayland, 1972) dan keputusan biasanya disebut sebagi definisi ESOU (Munandar, 2004: 23).
2.      Konsepsi Renzulli Tentang Keberbakatan
Tiga criteria keberbakatan menurut Renzulli, dkk (Munandar, 2004: 24) yaitu:
a.       Kemampuan umum diatas rata-rata
b.      Kreativitas diatas rata-rata
c.       Peningkatan diri terhadap tugas
3.      Dasar Pertimbangan Untuk Pendidikan Anak Berbakat
Beberapa alasan perlunya pelayanan pendidikan kusus bagi yang berbakat (Munandar, 2004: 13-15), yaitu:
-          Keberbakatan tumbuh dari proses interaktif antara lingkungan dan bawaan
-          Pendidikan hendaknya hendaknya dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan potensi sepenuhnya
-          Anak berbakat harus mengembangkan keberbakatannya
-          Pelayanan pendidikan anak berbakat dapat mengembangkan social dan sikap yang lebih baik
-          Menghargai minat dan gagasan anak
-          Mereka memerlukan pengetahuan yang luas untuk memecakan masalah
-          Masyarakat perlu orang-orang yang berkemampuan luar biasa untuk menghadapi tuntutan masa depan secara inovatif
-          Anak berbakat akan tumbuh dengan pelayanan yang khusus
4.      Kebijakan Pelayanan Anak Berbakat
Kebijakan tentang pelayanan anak berbakat terdapat pada ayat-ayat dalam UU RI Nomor 2 Tahun 1989 tantang system pendidikan nasional amat mendukung penyelenggaraan program pendidikan khusus bagi anak berbakat.

D.    Pengembangan Kreativitas Anak Usia Dini
1.      Menumbukan Jiwa Kreatif Anak Usia Dini
Dalam menumbuhkan jiwa kreatif anak usia dini diperlukan pendidikan dan lingkungan yang dapat memperatikan sifat alami anak dan menunjang tumbuhnya kreativitas. Sikap alami menurut Rachmawati dan Kurniati dalam Mulyasa (2012: 94-96) tersebut antara lain:
a.       Pesona dan rasa takjub
Anak dapat mengamati alam yang dapat membuat anak kagum dan takjub sehingga menghasilkan karya-karya kreatif.
b.      Imajinasi
Melalui imajinasi, anak sering berpikir untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapinya.
c.       Rasa ingin tahu
Pada mumnya anak usia dini memiliki antusias yang tinggi terhadap benda-benda di dekitarnya atau makhluk baru yang pertama kali dilihatnya.
d.      Banyak bertanya
Bertanya merupakan kunci pembuka cakrawala ilmu pengetahuan bagi anak.




2.      Mengembangkan Kreativitas Dalam Pembelajaran
Pengembangan kreativitas anak usia dini dalam pembelajaran harus di laksanakan secara efektif, efisien, produktif dan akuntabel. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan kreativitas anak usia dini dalam pembelajarannya, antara lain:
a.       Pembelajaran yang menyenangkan
Dalam standar proses dikemukakan antara lain bahwaproses pembelajaran harus menyenangkan agar anak mudah mencapai tujuan dan membentuk standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD). Untuk kepentingan tersebut diperlukan adanya keterlibatan emosi anak dalam proses pembelajaran, karena factor emosi merupakan factor penting dan menentukan efektivitas proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang menyenangkan akan sangat berarti bagi anak dan bermanfaat hingga dewasa.
b.      Belajar sambil bermain
Melalui bermain anak dapat mempelajari banyak hal, tanpa disadari dan tanpa merasa terbebani. Melalui bermain anak dapat mengenal aturan, bersosialisasi, menempatkan diri, menata emosi, toleransi, kerjasama, mengalah, sportif, dan sikap positif lainnya.
c.       Interaktif
Dalam proses pengembangan kreativitas anak usia dini, perlu dipikirkan pendekatan pembelajaran yang paling tepat bagu mereka. Dalam hal ini perlu perubaan pola piker, baik pola piker guru maupun peserta didik sehingga tercipta pembelajaran yang interaktif, yang dapat melibatkan anak seoptimal mungkin dalam pembelajaran. Yang dulu dikenal cara belajar siswa aktif, yang lebih menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran.
d.      Memadukan pembelajaran dengan perkembangan
Berbicara kreativitas sebenarnya bukan hanya satu sisi saja yang menjadi focus dalam pembelajaran anak usia dini sebab mereka memiliki berbagai aspek perkembangan seperti fisik, kognitif, bahasa, emosi, kepribadian, spiritual, dan social. Aspek-aspek perkembangan tersebut merupakan suatu kesatuan, yakni dalam memadukan semua komponen pembelajaran dan pekembangan anak. Memadukan pembelajaran dengan perkembangan anak usia dini akan memberikan kemudahan pendidik untuk memberikan layanan yang tepat sehingga mereka bias menyajikan pendidikan yang efektif, efisien, produktif, dan akuntabel.

e.       Belajar dengan konteks nyata
Pembelajaran pada anak usia dini dapat dilakukan dengan pengamatan dan berinteraksi secara langsung dengan objek pembelajaran, dapat menambah wawasan dan pengetahuannya jauh lebih bermakna. Disamping itu apa yang mereka pelajari dalam konteks yang nyata akan tersimpan lama di dalam ingatan, dan akan memudahkan mereka dalam pembelajaran selanjutnya.

3.      Strategi Pengembangan Kreativitas Anak Usia Dini
Dari berbagai sumber, diperoleh informasi tentang berbagai strategi yang dapat digunakan dalam membantu mengembangkan kreativitas anak usia dini, antara lain:
a.       Karya nyata
Strategi pengembangan kreativitas melalui karya nyata ini memberikan kesempatan pada setiap anak untuk menciptakan benda buatan sendiri yang belum pernah ditemuinya. Mereka juga bisa memodifikasi sesuatu dari benda yang telah ada sebelumnya. Hal yang perlu ditekankan adalah bahwa setiap aktivitas anak akan membantu mereka menjadi lebih kreatif dan semangat menemukan sesuatu yang baru.
b.      Imajinasi
Imajinasi merupakan kemampuan berpikir divergen yang dimiliki setiap anak usia dini, yang dilakukan tanpa batas, san multiperspektif dalam merespons suatu rangsangan. Melalui imajinasi anak dapat mengembangkan kemampuan daya pikir dan daya ciptanya tanpa dibatasi kenyataan dan realitas sehari-hari, anak bebas berpikir sesuai pengalaman dan khayalannya.
c.       Eksplorasi
Eksplorasi merupakan suatu kegiatan permainan yang dilakukan dengan cara menjelajahi atau mengunjungi suatu tempat atau lingkungan untuk mempelajari sesuatu. Kegiatan eksplorasi bagi anak usia dini merupakan suatu upaya belajar mengelaborasi dan menggunakan kemampuan analisis sederhana dalam mengenal suatu objek. Anak dilatih untuk mengamati benda dengan seksama, memperhatikan setiap bagian dari objek tertentu serta mengenal cara hidup dan cara kerja objek tersebut.



d.      Eksperimen
Eksperimen dalam pembelajaran anak usia dini merupakan cara untuk mengetahui cara atau proses terjadinya sesuatu, dan mengapa sesuatu dapat terjadi serta bagaimana mereka dapat menemukan solusi terhadap permasalahan yang ada dan pada akhirnya mereka dapat membuat sesuatu yang bermanfaat dari kegiatan tersebut.
e.       Proyek
Keguatan proyek merupakan salah satu pemberian pengalaman belajar dengan menghadapkan anak pada persoalan sehari-hari yang harus dikerjakan secara berkelompok. Dalam kelompok, setiap anak belajar mengatur diri sendiri agar dapat membina persahabatan, berperan serta dalam kegiatan, memecahkan permasalahan yang dihadapi kelompok dan bekerja sama.
Melalui kegiatan proyek, anak mendapat kesempatan untuk mengekspresikan pola pikir, keteranpilan, dan kemampuannya untuk memaksimalkan sejumlah permasalahan yang dihadapi mereka sehingga anak memiliki peluang untuk berkreasi dan mengembangkan diri.
f.       Bahasa
Bahasa adalah kemampuan untuk mengekspresikan apa yang dialami dan dipikirkan oleh anak dan kemampuan untuk menangkap pesan dari lawan bicara. Dengan berbahasa anak dapat berkomunikasi dan bersosialisasi dengan anak lainnya. Dengan bahasa juga dapat mengembangkan kreativitas melalui kegiatan mendongeng, menceritakan kembali kisah yang tela diperdengarkan, berbagi pengelaman, sosiodrama, atau mengarang cerita dan puisi.
g.      Music
Music merupakan aktivitas kreatif, seorang anak yang kreatif tampat dari rasa ingin tahu, sikap ingin mencoba dan daya imajinasinya. Bermain music dapat melatih kepekaan rasa dan emosi anak, melatih mental untuk mencintai keselarasan, keharmonisan, keindahan dan kebaikan, serta kecintaan terhadap music.





E.     Peranan Guru Dalam Pengembangan Kreativitas dan keberbakatan Anak
1.      Peran Guru Dalam Pengembangan Kreativitas
a.       Kreatif dan menyukai tantangan
guru harus bersifat kreatif, senang akan tantangan dan hal baru. Sehingga ia akan senantiasa mengembangkan, memperbaharui, dan memperkaya aktivitas belajarnya dari waktu ke waktu.
b.      Menghargai karya anak
Menghargai anak sangatla prinsipel sifatnya. Tanpa sikap ini mustahil anak akan bersedia mengekspresikan dirinya secara bebas dan mandiri dalam menyelesaikan tugasnya.
c.       Menerima anak apa adanya
Setiap anak unik dan khas, sebagai seorang guru dituntuk untuk memahami keunikan peserta didiknya. Penerimaan anak berkaitan dengan rasa aman pada anak.
d.      Motivator
Seorang guru sebagai pendorong bagi peserta didik dan seluruh komponen akademika untuk terus mengembangkan diri dan memaksimalkan potensi kreatif yang mereka miliki
e.       Ekspresif, penuh penghayatan, dan peka pada perasaan
Kematangan emosional para pengembang kreativitas adala hal penting untuk dapat mengalami asil kreativitas anak.
f.       Mencintai seni dan keindahan
Banyak hasil karya kreativitas berbentuk karya seni, oleh sebab itu gruru memiliki konsep-konsep dasar tentang estetika
g.      Memiliki rasa cinta yang tulus terhadap anak
Kecintaan yang tulus terhadap anak akan memberikan kenyamanan secara psikologis bagi anak untuk dapat dengan tenang dan senang melakukan eksplorasi terhadap potensi dirinya.
h.      Tertarik pada perkembangan anak
Guru hendaknya memahami akan aspek perkembangan anak, sehingga guru dapat mengembangkan kreativitas anak sesuai dengan perkembangan dan dapat menangani permasalahan yang muncul dalam pembelajaran.


i.        Mau dan mampu mengembangkan porensi anak
Setelah guru mengetahui potensi anak, guru harus tahu akan tindakan selanjutnya untuk pengembangan potensi anak sehingga anak dapat berkembang dengan optimal.
j.        Hangat dan semangat
Kasih saying, sentuhan dan kehangatan dalam bersikap akan dapat menunjang terciptanya suatu psychological athmosphere yang baik bagi anak. Anak akan merasa senang dan nyaman, tanpa harus merasa takut dan tegang untuk dapat mengekspresikan dan mengaktualisasikan dirinya dengan potensial yang mereka miliki.
k.      Dinamis dan konsisten
Sesuatu hal yang merupakan cirri dari kreativitas adalah menyukai perubahan dapat dilihat dari proses, person dan produknya. Sifat dinamis yang ditandai dengan adanya perubahan tersebut, tentu saja tanpa menghilangkan sikap konsisten yang harus dipegang ole individu agar dapat memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Konsisten mengandung arti bahwa anak diarahkan untuk memiliki ketepatan dalam memutuskan mana potensi yang mereka miliki dan akan mereka kembangkan. Artinya, guru tidak memaksakan kemampuan anak untuk mengembangkan potensi yang mungkin sebenarnya tidak terlalumenonjol dalam diri anak.
l.        Mau bermain dan berbagi
Pada hakikatnya bermain bagi anak adalah belajar dan bekerja, dan kreativitas lebih banyak berkaitan dengan bermain daripada bekerja. Dalam hal ini guru hendaknya terlibat aktif dalam bentuk permainan yang dirancang untuk mengembangkan kreativitas anak
m.    Luwes, tanggap dan peduli
Sikap dan kepribadian yang menarik dari guru pengembangan kreativitas adalah luwes dan lincah dalam menghadapi segala macam kebutuhan, minat dan kemampuan anak. Guru hendaknya mengupayakan agar anak senang dalam melakukan kegiatan, merasa diterima, dipahami, dan diperlakukan dengan penuh perhatian sehingga anak merasa aman dan nyaman untuk mengembangkan kreativitasnya dengan optimal.


n.      Memberi kebebasan untuk belajar dari lingkungan
Lingkungan yang seharusnya diciptakan disekitar anak adalah lingkungan yang dapat merangsang anak untuk mengeksplorasikan segala sesuatu  yang ada disekitar mereka. Lingkungan dapat memberikan rangsangan yang baik bagi berkembangnya kreativitas anak. Kesempatan yang diberikan kepada setiap anak untuk menjelajahi lingkungan sekitar mereka dapat diberikan gagasan baru bagi mereka untuk mengembangkan potensi kreatif yang dimiliki.

2.      Peran Guru Dalam Pengembangan Bakat Anak
a.       Karakteristik guru anak berbakat
Guru menentukan tujuan dan sasaran belajar, membantu dalam pembentukan nilai pada anak (nilai hidup, nilai moral dan nilai social), memilih pengalaman belajar, menentukan metode atau strategi mengajar, dan yang paling penting, menjadi model prilaku bagi siswa. Davis (dikutip Sisk, 1987) menyebutkan ciri-ciri sebagai berikut: sikap demokratis, ranah dan memberi perhatian per orangan, sabar, minat luas, penampilan yang menyenangkan, adil, tidak memihak, rasa umor, perilaku konsisten, memberi perhatian terhadap masakah anak, kelenturan, menggunakan penghargaan dan pujian, dan kemahiran yang luar biasa dalam mengajar subjek tertentu.
Maker (1982) membagi karakteristikguru anak berbakat menjadi tiga kelompok, yaiti: karakteristik filosofis, karakteristik professional, karakteristik pribadi guru.
b.      Persiapan guru anak berbakat
Kita dapat membedakan program bergelar untuk persiapan guru anak merbakat melalui:
1)      Program bergelar
Kebanyakan program guru anak berbakat mempersyaratkan kompetensi sebagai berikut
a)      Mengetaui sifat dan kebutuhan anak
b)      Mempunyai keterampilan dalam mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi
c)      Mengetahui tentang kebutuhan efektif dan kognitif dari anak berbakat
d)     Mempunyai kemampuan untuk mengembangkan pemecahan masalah secara kreatif
e)      Mempunyai kemampuan untuk mengembangkan bahan untuk anak berbakat
f)       Mempunyai kemampuan untuk menggunakan strategi mengajar per orangan
g)      Mempunyai kemampuan untuk mempertunjukkan teknik mengajar yang sesuai
h)      Mempunyai kemampuan untuk membimbing dan memberi konseling kepada anak berbakat dan orang tua mereka
i)        Mempunyai kemampuan utuk melakukan penelitian

2)      Pelatihan dalam jabatanj
Program pelatihan guru anak berbakat yang biasanya diberikan, termasuk di Indonesia, secara garis besar meliputi:
a)      Karakteristik dan identifikasi anak berbakat
b)      Memahami proses kognitiff, afektif, psikomotor, dan proses pemikiran tingkat tinggi
c)      Strategi mengajar dan lingkungan belajar yang sesuai dengan gaya dan minat bakat anak
d)     Organisasi penyelenggaraan program
e)      Evaluasi program














BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
            kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasi dri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang menjadi matang, kecenderungan untuk mengekspresikan dan mengaktifkan semua kemampuan organisme. Pada diri anak telah memiliki kreativitas yang dapat dimunculkan dengan sikap-sikap seperti selalu ingin tahu, memiliki minat yang luas, dan menyukai kegemaran dan aktivitas yang kreatif. Siswa berbakat kreatif biasanya mempunyai rasa humor yang tinggi, dapat melihat masalah dari berbagai sudut tinjau, dan memiliki kemampuan untuk bermain dengan ide, konsep, atau kemungkinan-kemungkinan yang dikhayalkan. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengembangan kreativitas anak sejak usia dini. Makna dari pengembangan kreativitas berkaitan dengan kualitas perwujudan diri, peningkatan kemampuan berfikir kreatif.
            Untuk mengembangkan kreativitas anak dibutuhkan keharmonisan antara guru dan anak dalam prose belajar mengajar dan  tidak kalah pentingnya peran orang tua anak tersebut. Kreativitas anak juga akan berkembang dengan hadirnya guru professional yang kreatif sebagai pemicu lahirnya inovasi proses dan hasil pembelajaran yang bermutu tinggi, karena guru sangat berperan penting dalam peningkatan kreativitas anak. Guru dapat menjadi pihak yang membentuk anak sesuai dengan kemampuan dan potensinya.














DAFTAR PUSTAKA

Mulyasa; 2012; Manajemen PAUD; Bandung; PT Remaja Rosdakarya.
Munandar, Utami; 2004; Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat; Jakarta; PT. Asdi Mahasatya.
Oktarisa, Dana; 2013;KREATIFITAS%20DAN%20KEBERBAKATAN/welcome%20to %20my%20blog%20%20perkembangan%20kreativitas%20anak%20usia%20dini.html; diakses tanggal 5 November 2013.
Raman, Hibana S; 2005; Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini; Yogyakarta; Grafindo Litera Media
Sujiono, Yuliani; 2011; Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini; Jakarta; PT. Indeks.
Suyadi; 2010; Psikologi Belajar Pendidikan Anak Usia Dini; Yogyakarta; Pedagogia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar