Senin, 01 Februari 2016

Integration Of ICT In Early Childhood Education



                                                                                 By: Ivan Kalas 
                     Comenius University, Bratislava, Slovak Republic

Artikel ini ingin membahas bagaimana peranan ICT dalam pendidikan anak usia dini yang diintegrasikan pada kegiatan bermain pada anak. Saat ini sudah sulit untuk menemukan sekolah yang tidak terintegrasi dengan layanan ICT. Khususnya untuk pendidikan tingkat lanjut. Artikel inipun membahas tujuan pengembangan literasi bagi guru-guru PAUD. Dalam pengintegrasian ICT, kususnya pada jenjang pendidikan anak usia dini, arus memahami dampak-dampak atau resiko yang akan diperoleh dari hasil integrasi tersebut. Praktisi anak usia dini dan peneliti  mencari strategi untuk lebih mengintegrasikan ICT sehingga tujuan pembelajaran dari anak usia dini dicapai sesuai harapan di abad 21st.
Laporan mengenai pengintegrasian ICT dalam PAUD dijelaskan Dewan Selandia Baru untuk Penelitian Pendidikan (2004). Ini menjadi landasan bagi kerangka ICT pemerintah Selandia Baru untuk awal pendidikan anak usia dan dipengaruhi kurikulum baru mereka untuk ECCE (Kementerian Edukation, 2009). Hal ini juga di pengaruhi beberapa kerangka kerja ICT serupa di negara lain.  Ketika digunakan secara tepat, laporan menegaskan, ICT dapat menjadi alat yang produktif untuk dukungan  pembelajaran dan perkembangan anak-anak. Namun, praktisi harus mengadopsi strategi pedagogis (pembelajaran) baru untuk memanfaatkan potensinya. Sehingga dapat meminimalisir dampak negatif yang akan timbul.
Telah dipelajari perangkat (sowfware dan hardware) yang akan digunakan oleh guru PAUD baik dalam pemanfaatan kegiatan bermain maupun pembelajaran. Dalam pengintegrasian ICT di PAUD,  tujuan pengintegrasian bukan hanya dalam pengembangan domain kognitif saja, melainkan akan mengembangkan segala potensi yang dimiliki anak.
Kemuan pengembangan literasi dilakukan, yaitu bagi guru PAUD dan lembaga PAUD. Pengembangan ini dirasakan manfaatnya yaitu untuk melihat perkembangan dari proses pembelajaran yang telah dilakukan. Pada pengembangan yang telah dirancang untuk pengembangan literasi dan pengintegrasian ICT, artikel ini menjelaskan bahwa mereka mempelajari faktor yang pengaruh, dukungan, atau membahayakan pengembangan literasi digital guru dan seluruh proses integrasi ICT dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan analisis mendalam dari laporan rinci dari pusat sampel dalam penelitian yang telah dilakukan, peneliti mengidentifikasi dan meneliti aspek yang berbeda dari process mengintegrasikan ICT dalam pendidikan anak usia dini. Pengamatan mengenai hal  untuk memanfaatkan potensi perkembangan ICT dan meminimalisir semua kekhawatiran yang dirasakan terhubung dengan ICT dalam pendidikan anak usia dini adalah untuk mengintegrasikan perangkat ICT  yang berbeda ke dalam kegiatan sehari-hari.
Artikel ini membahas tentang bagaimana pembelajaran dapat ditingkatkan dengan mengintegrasikan ICT, yaitu dengan memperhatikan beberapa hal dalam penyiapan kegiatan pembelajran. Beberapa hal yang dikembangkan dalam pembelajaran berintegrasi dengan ICT, yaitu: (a) melek teknologi; (b) ICT dan pemahaman matematika; (c) ICT dan ilmu pengetahuan; (d) Kreativitas, pemecahan masalah dan penggunaan playful teknologi; (e) keaksaraan dan lukisan Visual; (f) pendidikan Media (animasi digital); dan (g) Belajar musik.
Artikel ini berkonsentrasi pada dua hasil. Pertama, mengulas temuan mengenai perkembangan pemanfaatan literasi. Kedua, mengulas mengenai faktor yang mempengaruhi pengintegrasian ICT dalam pendidikan. Pentingnya pengintegrasian ICT dalam PAUD untuk pengembangan pembelajaran, baik dalam bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Dengan pengintegrasian ICT, guru dapat memiliki banyak literasi dalam mengembangkan bahan ajarnya. Dapat mengintegrasikan dalam kegiatan bermain berbasis ICT. Oleh sebab itu, perlu pengembangan dan peningkatan kecakapan keterampilan guru dalam mengintegrasikan ICT.
Beberapa faktor resiko yang berhasil diidentifikasi dalam pengintegrasian ICT di PAUD, yaitu: 1) Kurangnya pengembangan profesional, kurang dapat mengembangkan kemampuan pedagogis guru. 2) Kurangnya pemahaman dan  keyakinan. Banyak guru, orang tua, pemimpin pusat, atau otoritas pendidikan sering meragukan atau salah mengerti potensi pendidikan ICT. Mereka sering mengartikannya sebagai 'belajar tentang komputer'. Mereka juga mungkin gagal untuk mengidentifikasi potensi pendidikan TIK untuk mendukung proses pembelajaran, bermain dan berekspresi. 3) Kurangnya dukungan. 4) Kurangnya sumber daya pendidikan. Kurangnya bahan studi, sumber terbuka pembelajaran
atau lainnya mengenai instrumen pendukung untuk berbagi dan digunakan untuk belajar dan mengajar adalah faktor risiko lain yang serius. 5) Kurangnya kelanjutan, mengenai kelanjutan setelah anak memperoleh pembelajaran yang terintegrasi ICT, dengan pendidikan anak dijenjang lebih lanjut.
Beberapa temuan penelitian terbaru menunjukkan potensi yang luar biasa dari ICT untuk meningkatkan pembelajaran dan proses perkembangan lainnya dari anak-anak:-teknik digital dapat memberikan anak-anak kesempatan baru untuk terlibat dalam kegiatan yang menarik dan bermain, belajar, komunikasi, eksplorasi, dan pengembangan potensinya.

Jumat, 29 Januari 2016

Sekilas Tentang JARDIKNAS Dan INHERENT



JARDIKNAS (Jaringan Pendidikan Nasional)



Istilah Jejaring Pendidikan Nasional digunakan pertama kali bulan Juli 2006 sejalan dengan program pengembangan infrastruktur ICT (Information and Communication Technology) di lingkungan Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (PSMK) Mandikdasmen Depdiknas. Pada awalnya, PSMK Mandikdasmen Depdiknas berencana membangun infrastruktur jaringan online skala nasional untuk kebutuhan interkoneksi antar sekolah (Zona Sekolah) di setiap wilayah Kota/Kabupaten se-Indonesia. Dalam perkembangannya, infrastruktur jaringan online tersebut juga dihubungkan ke seluruh kantor Dinas Pendidikan Provinsi dan Kota/Kabupaten se-Indonesia sebagai simpul lokal JARDIKNAS di daerah (Zona Kantor Dinas). Dimana setiap kantor dinas pendidikan (sebagai simpul lokal) tersebut berkewajiban untuk mendistribusikan koneksi JARDIKNAS ke sekolah-sekolah termasuk Sekolah Menengah Kejuruan yang berfungsi sebagai ICT Center di daerah masing-masing.

1.    Manfaat ICT pada Pendidikan Nasional
a.    Peningkatan kecepatan layanan informasi yang integral, interaktif, lengkap, akurat dan mudah didapat.
b.    Memberikan pelayanan data dan informasi pendidikan secara terpadu.
c.    Menciptakan budaya transparan dan akuntabel.
d.    Merupakan media promosi pendidikan yang handal.
e.    Meningkatkan komunikasi dan interaksi baik secara lokal maupun internasional.
f.     Mengakses berbagai bahan ajar dari seluruh dunia, dan
g.    Meningkatkan efisiensi dari berbagai kegiatan pendidikan.

2.    Zona Jejaring Pendidikan Nasional (JARDIKNAS)
JARDIKNAS merupakan Wide Area Network (WAN) Pendidikan skala Nasional. JARDIKNAS terdiri dari 4 zona jaringan, meliputi:
a.    JARDIKNAS Kantor Dinas/Insitusi (DiknasNet)
Meliputi: kantor-kantor dinas pendidikan baik di tingkat pusat, propinsi hingga kota/kab. Fungsi utama Jardiknas pada zona Kantor Dinas sebagai media untuk transaksi data online sistem informasi administrasi dan manajemen pendidikan.
b.    JARDIKNAS Perguruan Tinggi (INHERENT)
Meliputi: seluruh perguruan tinggi baik negeri maupun swasta.Fungsi utama Jardiknas pada zona Perguruan Tinggi sebagai media untuk riset dan pengembangan IPTEKS serta pembelajaran elektronik berbasi Teknologi Informasi dan Komunikasi.
c.    JARDIKNAS Sekolah (SchoolNet)
Meliputi: seluruh sekolah formal maupun non formal baik negeri maupun swasta di seluruh jenjang (TK, SD, SLTP, SLTA). Fungsi utama Jardiknas pada zona Sekolah sebagai media akses informasi dan pengetahuan serta pembelajaran elektronik berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.
d.    JARDIKNAS Guru dan Siswa (TeacherNet and StudentNet)
Meliputi: akses personal untuk Guru, Dosen, Karyawan, Siswa dan Mahasiswa di institusi pendidikan se-Indonesia. Fungsi utama Jardiknas pada zona Personal sebagai media komunikasi dan akses informasi pendidikan.

3.    Fungsi dan Pemanfaatan JARDIKNAS
a.      JARDIKNAS Kantor Dinas/Institusi :Transaksi data online SIM Pendidikan
a.      JARDIKNAS Perguruan Tinggi: Riset dan Pengembangan IPTEKS
b.      JARDIKNAS Sekolah: Akses Informasi dan e-Learning
b.      JARDIKNAS Guru dan Siswa : Akses informasi dan interaksi komunitas

Sejalan dengan program JARDIKNAS, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti Depdiknas) juga turut mengembangkan infrastruktur jaringan skala nasional khusus antar perguruan tinggi yang disebut INHERENT (Indonesia Higher Education Network). Ada 32 perguruan tinggi negeri sebagai simpul lokal INHERENT dimana simpul lokal tersebut mendistribusikan koneksinya ke perguruan tinggi lain di wilayah masing-masing.



INHERENT (Indonesia Higher Education Network)


INHERENT merupakan kependekan dari Indonesia Higher Education Network atau Jaringan Perguruan Tinggi Indonesia, yaitu jaringan teknologi informasi dan komunikasi yang menghubungkan setiap perguruan tinggi di Indonesia.
Jaringan ini dirancang untuk akan menghubungkan seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia pada masa yang akan datang. Pada awalnya jaringan ini dimulai dengan menghubungkan 32 perguruan tinggi yang berlokasi di setiap propinsi di Indonesia, dan Dikti Jakarta. Perguruan-perguruan tinggi ini mengelola simpul-simpul lokal.
Tujuan utama pengadaan inherent adalah kerjasama komunikasi data antar perguruan tinggi. Content Internet langsung diharapkan bisa diusahakan masing-masing perguruan tinggi. Tidak tertutup kemungkinan perguruan tinggi sharing mirror internet yang dianggap bermanfaat langsung untuk kepentingan perguruan tinggi di Indomesia pada umumnya.
Koneksi Inherent diutamakan untuk kepentingan pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Untuk pemenuhan kebutuhan tersebut, Inherent terbuka bagi koneksi dengan institusi riset dan pemerintah daerah.



Ancaman Yang Paling Nyata Dari TIK Terhadap Masa Depan Anak-Anak




Masa depan anak dengan adanya TIK akan terancam, ketika banyak masalah yang akan ditimbulkan. Pada anak usia dini, anak melalui masa emas “golden ege” dimana pada usia tersebut merupakan usia yang cocok untuk mengembangkan potensinya dengan optimal. Anak mudah menyerap segala sesuatu yang ada di sekitarnya seperti apa yang dilihatnya, termasuk segala sesuatu yang ada diperoleh melalui penggunaan ICT.
Dalam pemanfaatan ICT perlu adanya penanaman nilai-nilai yang positif, karena dalam ICT banyak sekali nilai-nilai yang dapat diambil oleh anak. Ketika anak tidak dapat memilah apa yang dilihatnya maka akan berpengaruh pada daya pikir dan perkembangan anak.
Dalam perkembangannya, ICT sudah banyak sekali dimanfaatkan oleh anak-anak. Permasalahannya yang berhubungan dengan TIK pada pendidikan anak, yaitu:
1.    ketika anak-anak sangat mudah untuk mengakses segala sesuatu yang menggunakan ICT dalam bentuk “internet”  maka anak akan mudah terpengaruh oleh apa yang dilihatnya.
2.    Ketika hal-hal yang negatif muncul, anak dapat meniru yang dilihatnya. Misalnya video kekerasan, video yang berbau negatif.
3.    Anak sudah kecanduan dengan pemanfaatan ICT, sehingga perkembangan anak mengalami permasalahan. Anak sulit berinteraksi, anak lebih cenderung malas bergerak karena fokus pada penggunaan ICT.

Dari manfaat dan masalah yang ada mengenai pemanfaatan ICT, maka tergambar jelas ketika anak tidak dapat memanfaatkan ICT dengan baik maka anak akan memperoleh sisi negatif dari ICT. Dengan begitu anak akan tercetak menjadi individu yang kurang berkembang disegala aspeknya. Masa depan anakpun akan terganggu, anak akan sulit untuk berinteraksi, anak mudah meniru hal negatif, dan dapat menjadi penikmat akses negatif tersebut.
Masih banyak permasalaan lain yang muncul pada penggunaan TIK untuk masa depan anak. Namun, dari permasalahan yang ada terdapat beberapa solusi yang dapat dilakukan, yaitu:
1.    Memberikan pemahaman kepada anak, menanamkan nilai-nilai moral pada anak dari hal terkecil terlebih dahulu. Pendidikan anak usia dini harus membentuk anak yang terbiasa untuk hidup dengan mengembangkan karakternya.
2.    Memberikan pemahaman kepada orang tua tentang peranan TIK pada anak, termasuk mengenai akses internet dan nilai apa saja yang terdapat dalam internet. Serta mencari beberapa cara untuk mengatasi permasalahan yang dialami orang tua khususny penggunaan IT pada anak-anak.
3.    Orang tua harus mampu mengkomunikasikan pemanfaatan yang baik pada penggunaan ICT untuk anak-anaknya.
4.    Untuk pendidik, perlu adanya pemahaman mengenai penanaman nilai-nilai moral dan pengembangan karakter anak melalui kegiatan pembiasaan pada anak. Agar anak memiliki sikap yang baik dalam mengatasi pemanfaatan ICT.
5.    Untuk yang lebih luas, perlu adanya pengaturan dari pemerintah mengenai pemanfaatan internet. Tidak hanya internet, IT lain seperti televisi harus ada pengaturannya. Beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu: 1) Dari segi pemanfaatan internet harus ada pembatasan mengenai akses internet yang dapat di akses oleh anak; 2) Untuk televisi harus ada pembatasan penayangan-penayangan program televisi yang memang mengandung unsur negatif; 3) Bahkan dapat dibuat password pada tayangan televisi atau akses internet yang mengandung unsur negatif; dan 4) Diatur jam dalam penayangan-penayangan film yang baik di tonton oleh anak dan orang dewasa.

Pada hakekatnya solusi yang dapat dilakukan dalam dunia pendidikan adalah dengan menanamkan nilai-nilai moral dan karakter pada anak. Sehingga anak tercipta menjadi individu yang memahami hal yang baik dan buruk baginya. Namun, hal tersebut tidak dapat dilakukan hanya sebelah pihak, terutama dari lingkungan sekolah saja. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan terdekat anak, sehingga orang tua harus dapat bekerjasama untuk mengembangkan karakter anak. Begitupun dengan lembaga-lembaga lain yang berada dilingkungan anak, perlu adanya dukungan dari lingkungan sekitar anak dimana anak bersosialisasi.

Kamis, 28 Januari 2016

Peran TIK Di Perguruan Tinggi




Perubahan paradikma pengajaran dengan pembelajaran merujuk pada pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam dunia pendidikan. Perubahan ini mengacu pada empat dimensi dalam pembelajaran yaitu: 1) Perubahan pada pengetahuan guru, keyakinan dan perilaku; 2) Perubahan pada murid bagaimana menggunakan konten atau bidang kajian tersebut; 3) Perubahan dalam hubungan dengan siswa, guru dan orangtua murid; dan 4) Perubahan dalam penggunaan ICT untuk pembelajaran pada siswa.
Pembelajaran ditujukan agar membentuk anak yang cerdas dan kreatif dengan proses yang nyata dalam konteks yang luas. Dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam dunia pendidikan khususnya di peguruan tinggi, diharapkan akan membentuk individu yang kompeten dan dapat bersaing dalam dunia nyata.
Teknologi komunikasi dan informasi sendiri dijadikan sarana dalam pondasi dan tiang dalam pembangunan sistem pendidikan nasional khususnya pada kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi. Teknologi komunikasi dan informasi memiliki peranan penting dalam perguruan tinggi bagi komponen yang ada didalamnya, seperti kurikulum, proses belajar mengajar, fasilitas, sumberdaya manusia, administrasi, manajemen dan kebijakan, serta infrastruktur dan suprastruktur pendidikan.
Pada hakekatnya teknologi komunikasi dan informasi dijadikan sumber-sumber belajar atau informasi, fasilitas, sarana, dan pembentuk skill atau kemampuan, baik dalam proses pembelajaran maupun dalam proses pengembangan perguruan tinggi. Adapun peranan penting teknologi informasi dan komunikasi di perguruan tinggi secara umum sebagai berikut: 1) Meningkatkan prestasi akademik mahasiswa; 2) Meningkatkan daya saing perguruan tinggi; 3) Meningkatkan mutu dan akses pendidikan tinggi (inherent); dan 4) Meningkatkan “citra” perguruan tinggi, dapat dikatakan sebagai nilai tambah BAN-PT.
Dengan adanya ICT dalam dunia pendidikan khususnya lingkup perguruan tinggi maka akan memudahkan pendidik maupun peserta didik dalam memperoleh, mengolah dan mencerna informasi-informasi yang dibutuhkan dalam mengembangkan kompetensi-kompetensi yang dimilikinya.