By: Ivan Kalas
Comenius University, Bratislava, Slovak Republic
Artikel ini ingin membahas
bagaimana peranan ICT dalam pendidikan anak usia dini yang diintegrasikan pada
kegiatan bermain pada anak. Saat ini sudah sulit untuk menemukan sekolah yang
tidak terintegrasi dengan layanan ICT. Khususnya untuk pendidikan tingkat
lanjut. Artikel inipun membahas tujuan pengembangan literasi bagi guru-guru
PAUD. Dalam pengintegrasian ICT, kususnya pada jenjang pendidikan anak usia
dini, arus memahami dampak-dampak atau resiko yang akan diperoleh dari hasil
integrasi tersebut. Praktisi anak usia dini dan peneliti mencari strategi untuk lebih mengintegrasikan
ICT sehingga tujuan pembelajaran dari anak usia dini dicapai sesuai harapan di
abad 21st.
Laporan mengenai pengintegrasian ICT dalam PAUD
dijelaskan Dewan Selandia Baru untuk Penelitian Pendidikan (2004). Ini menjadi
landasan bagi kerangka ICT pemerintah Selandia Baru untuk awal pendidikan anak
usia dan dipengaruhi kurikulum baru mereka untuk ECCE (Kementerian Edukation,
2009). Hal ini juga di pengaruhi beberapa kerangka kerja ICT serupa di negara
lain. Ketika digunakan secara tepat,
laporan menegaskan, ICT dapat menjadi alat yang produktif untuk dukungan pembelajaran dan perkembangan anak-anak.
Namun, praktisi harus mengadopsi strategi pedagogis (pembelajaran) baru untuk
memanfaatkan potensinya. Sehingga dapat meminimalisir dampak negatif yang akan
timbul.
Telah dipelajari perangkat (sowfware dan hardware)
yang akan digunakan oleh guru PAUD baik dalam pemanfaatan kegiatan bermain
maupun pembelajaran. Dalam pengintegrasian ICT di PAUD, tujuan pengintegrasian bukan hanya dalam
pengembangan domain kognitif saja, melainkan akan mengembangkan segala potensi
yang dimiliki anak.
Kemuan pengembangan literasi dilakukan, yaitu bagi
guru PAUD dan lembaga PAUD. Pengembangan ini dirasakan manfaatnya yaitu untuk
melihat perkembangan dari proses pembelajaran yang telah dilakukan. Pada
pengembangan yang telah dirancang untuk pengembangan literasi dan
pengintegrasian ICT, artikel ini menjelaskan bahwa mereka mempelajari faktor
yang pengaruh, dukungan, atau membahayakan pengembangan literasi digital guru
dan seluruh proses integrasi ICT dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan analisis mendalam dari laporan rinci dari
pusat sampel dalam penelitian yang telah dilakukan, peneliti mengidentifikasi
dan meneliti aspek yang berbeda dari process mengintegrasikan ICT dalam
pendidikan anak usia dini. Pengamatan mengenai hal untuk memanfaatkan potensi perkembangan ICT
dan meminimalisir semua kekhawatiran yang dirasakan terhubung dengan ICT dalam
pendidikan anak usia dini adalah untuk mengintegrasikan perangkat ICT yang berbeda ke dalam kegiatan sehari-hari.
Artikel ini membahas tentang bagaimana pembelajaran dapat
ditingkatkan dengan mengintegrasikan ICT, yaitu dengan memperhatikan beberapa
hal dalam penyiapan kegiatan pembelajran. Beberapa hal yang dikembangkan dalam
pembelajaran berintegrasi dengan ICT, yaitu: (a) melek teknologi; (b) ICT dan
pemahaman matematika; (c) ICT dan ilmu pengetahuan; (d) Kreativitas, pemecahan
masalah dan penggunaan playful teknologi; (e) keaksaraan dan lukisan Visual;
(f) pendidikan Media (animasi digital); dan (g) Belajar musik.
Artikel ini berkonsentrasi pada dua hasil. Pertama,
mengulas temuan mengenai perkembangan pemanfaatan literasi. Kedua, mengulas
mengenai faktor yang mempengaruhi pengintegrasian ICT dalam pendidikan. Pentingnya
pengintegrasian ICT dalam PAUD untuk pengembangan pembelajaran, baik dalam
bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Dengan pengintegrasian ICT, guru
dapat memiliki banyak literasi dalam mengembangkan bahan ajarnya. Dapat mengintegrasikan
dalam kegiatan bermain berbasis ICT. Oleh sebab itu, perlu pengembangan dan
peningkatan kecakapan keterampilan guru dalam mengintegrasikan ICT.
Beberapa faktor resiko yang berhasil diidentifikasi
dalam pengintegrasian ICT di PAUD, yaitu: 1) Kurangnya pengembangan
profesional, kurang dapat
mengembangkan kemampuan pedagogis guru. 2) Kurangnya pemahaman dan keyakinan. Banyak guru, orang tua,
pemimpin pusat, atau otoritas pendidikan sering meragukan atau salah mengerti
potensi pendidikan ICT. Mereka sering mengartikannya sebagai 'belajar tentang
komputer'. Mereka juga mungkin gagal untuk mengidentifikasi potensi pendidikan
TIK untuk mendukung proses pembelajaran, bermain dan berekspresi. 3) Kurangnya
dukungan. 4) Kurangnya sumber daya pendidikan. Kurangnya bahan studi,
sumber terbuka pembelajaran
atau lainnya mengenai instrumen pendukung untuk
berbagi dan digunakan untuk belajar dan mengajar adalah faktor risiko lain yang
serius. 5) Kurangnya kelanjutan, mengenai kelanjutan setelah anak memperoleh pembelajaran yang terintegrasi ICT, dengan pendidikan anak dijenjang lebih lanjut.
Beberapa temuan penelitian terbaru menunjukkan potensi
yang luar biasa dari ICT untuk meningkatkan pembelajaran dan proses
perkembangan lainnya dari anak-anak:-teknik digital dapat memberikan anak-anak
kesempatan baru untuk terlibat dalam kegiatan yang menarik dan bermain, belajar,
komunikasi, eksplorasi, dan pengembangan potensinya.


